Perdamaian sering kali dipahami sebagai keadaan ketika konflik telah berhenti atau ketika pihak-pihak yang berselisih mencapai kesepakatan melalui dialog dan negosiasi. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi psikologi sosial menawarkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai bagaimana perdamaian sesungguhnya terbentuk. Konflik antarkelompok bukan hanya dipicu oleh perbedaan kepentingan atau ideologi, melainkan juga oleh cara manusia membangun identitas sosial, memandang kelompoknya sendiri, dan mempersepsikan kelompok lain sebagai ancaman. Dalam konteks inilah gagasan superordinate goal yang diperkenalkan oleh Muzafer Sherif menjadi salah satu kontribusi penting dalam memahami dinamika konflik sekaligus mekanisme psikologis yang mampu menciptakan perdamaian. Konsep superordinate goal menjelaskan bahwa kelompok-kelompok yang saling bermusuhan dapat mengurangi prasangka dan membangun kerja sama apabila mereka dihadapkan pada tujuan bersama yang hanya dapat dicapai melalui kolaborasi. Dengan kata lain, perdamaian tidak selalu lahir dari upaya menghilangkan perbedaan, tetapi justru dari hadirnya kepentingan kolektif yang lebih besar daripada kepentingan masing-masing kelompok. Gagasan ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat menghadapi berbagai tantangan kontemporer, seperti polarisasi politik, konflik sosial berbasis identitas, meningkatnya ketidakpercayaan kepada pemerintah, hingga kompleksitas persoalan publik yang tidak dapat diselesaikan oleh satu aktor saja. Bagi administrasi publik, temuan psikologi sosial tersebut membuka perspektif baru bahwa pemerintah bukan sekadar penyelenggara birokrasi dan penyedia layanan publik, melainkan juga memiliki fungsi strategis sebagai perancang tujuan bersama (designer of common goals) yang mampu memperkuat kohesi sosial. Dengan demikian, keberhasilan administrasi publik tidak hanya diukur dari efektivitas kebijakan, tetapi juga dari kemampuannya membangun rasa kebersamaan di tengah masyarakat yang plural.
Psikologi Sosial di Balik Konflik Antarkelompok
Muzafer Sherif memulai penjelasannya dari asumsi sederhana bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara alami membentuk identitas kelompok. Ketika seseorang menjadi bagian dari suatu kelompok, ia cenderung mengembangkan loyalitas terhadap kelompoknya sendiri (ingroup) sekaligus membangun jarak psikologis terhadap kelompok lain (outgroup). Identitas tersebut sebenarnya tidak selalu bermasalah, tetapi akan berkembang menjadi konflik ketika kelompok-kelompok tersebut diposisikan dalam situasi kompetitif, terutama ketika mereka memperebutkan sumber daya, status, pengaruh, atau pengakuan. Dalam kondisi seperti itu, setiap keberhasilan kelompok lain akan dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kelompok sendiri. Akibatnya, prasangka, stereotip, diskriminasi, hingga permusuhan menjadi semakin menguat. Konflik kemudian tidak lagi didasarkan pada persoalan objektif, melainkan berkembang menjadi konflik identitas yang sulit diselesaikan hanya melalui pendekatan rasional. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak konflik sosial tetap berlangsung meskipun akar permasalahan ekonominya telah diselesaikan. Identitas sosial yang telah terbentuk sering kali lebih kuat daripada kepentingan material itu sendiri. Fenomena tersebut dapat ditemukan dalam berbagai praktik administrasi publik. Konflik antara masyarakat dan pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, persaingan antardaerah dalam memperoleh alokasi anggaran, polarisasi politik pasca-pemilu, maupun perdebatan mengenai distribusi bantuan sosial menunjukkan bahwa kebijakan publik tidak pernah sepenuhnya bersifat teknokratis. Setiap kebijakan selalu berinteraksi dengan aspek psikologis masyarakat yang memengaruhi cara mereka menerima ataupun menolak suatu keputusan pemerintah.
Superordinate Goal: Ketika Tujuan Bersama Mengalahkan Konflik
Melalui eksperimen legendaris Robbers Cave, Muzafer Sherif menunjukkan bahwa konflik antarkelompok dapat diciptakan hanya melalui kompetisi yang sederhana. Sekelompok anak laki-laki yang awalnya tidak saling mengenal dibagi menjadi dua kelompok berbeda. Dalam waktu singkat, masing-masing kelompok membangun identitasnya sendiri, menciptakan simbol kelompok, serta mengembangkan rasa solidaritas internal yang kuat. Ketika kedua kelompok kemudian dipertemukan dalam berbagai kompetisi, muncul permusuhan yang semakin intensif. Mereka saling mengejek, merusak fasilitas kelompok lawan, bahkan melakukan tindakan agresif. Namun, kondisi tersebut berubah secara drastis ketika Sherif memperkenalkan persoalan yang tidak mungkin diselesaikan oleh satu kelompok saja. Pasokan air di perkemahan sengaja dibuat terganggu, kendaraan bersama dibuat mogok, dan berbagai masalah lain dirancang sedemikian rupa sehingga kedua kelompok harus bekerja sama apabila ingin mencapai tujuan tersebut. Perlahan-lahan, rasa permusuhan mulai menghilang. Anak-anak yang sebelumnya saling membenci mulai berkomunikasi, berbagi tugas, membantu satu sama lain, bahkan akhirnya menjalin persahabatan. Temuan tersebut menjadi dasar lahirnya konsep superordinate goal, yakni tujuan yang memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan kepentingan masing-masing kelompok sehingga mendorong individu membangun identitas kolektif yang baru. Ketika perhatian berpindah dari “siapa lawan kita” menjadi “apa tujuan kita bersama”, konflik kehilangan fondasi psikologisnya. Identitas kelompok tidak lagi menjadi sumber permusuhan, tetapi berubah menjadi bagian dari kerja sama yang lebih luas. Secara psikologis, mekanisme ini bekerja melalui beberapa proses sekaligus. Pertama, tujuan bersama mendorong terjadinya rekonstruksi identitas sosial sehingga individu tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok yang saling berlawanan, melainkan sebagai anggota komunitas yang menghadapi tantangan yang sama. Kedua, kerja sama menciptakan interdependensi positif karena keberhasilan satu kelompok bergantung pada keberhasilan kelompok lain. Ketiga, interaksi yang intensif dalam mencapai tujuan bersama menumbuhkan empati dan mengurangi stereotip negatif. Keempat, fokus terhadap penyelesaian masalah membuat ego kelompok kehilangan relevansinya sehingga konflik perlahan mereda.
Relevansi Superordinate Goal bagi Administrasi Publik
Konsep superordinate goal memberikan pelajaran penting bahwa administrasi publik tidak cukup hanya menghasilkan kebijakan yang efektif secara administratif. Pemerintah juga harus mampu merancang kebijakan yang menghadirkan tujuan kolektif sehingga masyarakat memiliki alasan untuk bekerja sama, bukan saling berkompetisi. Dalam perspektif ini, birokrasi berfungsi sebagai institusi yang membangun kohesi sosial melalui kebijakan publik. Paradigma tersebut sejalan dengan perkembangan administrasi publik modern yang semakin menekankan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Pendekatan Collaborative Governance menempatkan pemerintah sebagai fasilitator yang mempertemukan berbagai aktor untuk menyelesaikan persoalan publik secara bersama-sama. Demikian pula konsep Public Value menegaskan bahwa nilai publik hanya dapat tercipta apabila pemerintah mampu mengartikulasikan kepentingan bersama yang diakui oleh masyarakat. Sementara itu, paradigma New Public Service memandang warga negara bukan sebagai pelanggan yang pasif, melainkan sebagai mitra yang bersama-sama membangun solusi terhadap berbagai persoalan publik. Dalam konteks tersebut, pemerintah sesungguhnya berperan sebagai arsitek yang merancang superordinate goal melalui kebijakan publik. Ketika negara berhasil membangun narasi mengenai tujuan bersama, masyarakat akan lebih mudah mengesampingkan perbedaan identitas demi mencapai kepentingan yang lebih besar. Sebaliknya, apabila kebijakan hanya dipersepsikan sebagai kepentingan pemerintah atau kelompok tertentu, maka resistensi sosial akan lebih mudah muncul. Fenomena ini dapat diamati dalam berbagai kebijakan publik. Penanganan pandemi COVID-19, misalnya, memperlihatkan bagaimana ancaman terhadap kesehatan masyarakat mampu membangun solidaritas kolektif ketika pemerintah berhasil mengomunikasikan bahwa keselamatan publik merupakan tujuan bersama. Demikian pula dalam penanggulangan bencana, masyarakat dari berbagai latar belakang cenderung mengesampingkan perbedaan politik maupun identitas untuk bersama-sama membantu korban. Pada tingkat lokal, program Smart Village, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan ekonomi desa, maupun pengurangan kemiskinan akan lebih efektif apabila diposisikan sebagai kepentingan seluruh masyarakat, bukan sekadar program pemerintah. Pelajaran penting lainnya adalah bahwa komunikasi publik memiliki peran sentral dalam membangun superordinate goal. Pemerintah perlu menghindari narasi yang memperkuat polarisasi atau membedakan masyarakat ke dalam kelompok “pendukung” dan “penentang”. Sebaliknya, komunikasi publik harus mengedepankan isu-isu universal seperti kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kualitas pelayanan publik sebagai tujuan kolektif yang menyatukan seluruh warga negara. Dengan demikian, kebijakan publik tidak hanya menghasilkan manfaat administratif, tetapi juga memperkuat integrasi sosial.
Penutup
Konsep superordinate goal yang dikembangkan oleh Muzafer Sherif menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah keadaan yang muncul secara spontan ataupun semata-mata melalui kesepakatan formal. Perdamaian dibangun melalui proses psikologis yang mengubah cara individu memandang dirinya, kelompoknya, dan kelompok lain. Ketika masyarakat memiliki tujuan bersama yang lebih besar daripada kepentingan kelompok masing-masing, identitas yang sebelumnya menjadi sumber konflik justru dapat berubah menjadi kekuatan untuk berkolaborasi. Dalam perspektif administrasi publik, temuan tersebut memiliki implikasi yang sangat strategis. Pemerintah tidak hanya bertanggung jawab menyusun regulasi dan menyediakan layanan publik, tetapi juga menciptakan kondisi sosial yang memungkinkan tumbuhnya kerja sama antarkelompok. Dengan merancang kebijakan yang menghadirkan superordinate goal, birokrasi dapat berfungsi sebagai institusi yang membangun kepercayaan, memperkuat kohesi sosial, dan mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. Oleh karena itu, administrasi publik modern pada hakikatnya bukan hanya ilmu tentang bagaimana negara mengelola pemerintahan, melainkan juga ilmu tentang bagaimana negara membangun masyarakat yang mampu bekerja sama menghadapi tantangan bersama.



Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.